Sejak Dua Bulan Lalu, Warga Kampung Babakan Cimekar Kesulitan Mengakses Air Bersih

www.wartagaluh.com BANDUNG - Kekeringan merupakan keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan

Begitu pula, dampak kekeringan mulai dirasakan oleh warga Kampung Babakan Cimekar, Desa Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Sejak dua bulan lalu, warga wilayah itu kesulitan mengakses air bersih sehingga harus berbagi pasokan dari beberapa sumur yang masih berair.

Salah seorang warga Empud Saipudin (44) mengatakan, Ia beserta 27 warga di RW 15, Sudah mengalami krisis air sejak dua bulan terakhir akibat kemarau.

"Separuh lahan sawah kami sudah tidak mendapat pasokan air, sehingga tanaman padi mati," ujarnya Rabu 2 September 2020.

Tak hanya itu, kata Empud, warga pun kesulitan mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Adapun kantong air seperti sumur yang masih bisa diandalkan hanya tinggal beberapa.

"Kantong air yang masih bisa terselamatkan hanya sedikit. Itupun hanya cukup untuk warga dalam radius hingga 200 meter," tutur Empud.

Untuk lahan pertanian, kata Empud, ia dan warga lain sudah berupaya untuk memperbaiki saluran dan mengalirkan air dari kantong yang masih tersedia. Namun minimnya pasokan membuat tak semua sawah bisa terairi secara bergilir.

Empud menambahkan, ia dan warga lain belum melaporkan keluhan tersebut kepada pemerintah dan dinas terkait.

"Namun dalam perbaikan saluran air, kami sudah ada jadwal seminggu sekali secara bergiliran dan dibantu oleh aparat bhabinsa setempat," ujarnya.

Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, Empud mengakui kondisi sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga warga semakin menipis. Saat ini sebagian besar sumur milik warga sudah mengering dan hanya menyisakan beberapa saja yang masih memiliki pasokan air.

"Beberapa sumur yang masih ada airnya dibagi oleh pemiliknya ke warga lain. Satu sumur bisa dibagi untuk tiga sampai empat kepala keluarga meskipun stoknya terbatas," kata Empud.

Selain itu, kata Empud, ketersediaan air hanya pada jam-jam tertentu saja. Biasanya pasokan cukup untuk mencuci pakaian pada pagi hari, sedangkan di siang hari kondisi air berwarna kuning dan tidak layak pakai.

"Selebihnya warga harus menunggu air terkumpul kembali, lagi pula tidak semua rumah warga memiliki sumur. Sehingga dengan terpaksa warga harus berbagi kendati tidak layak pakai", kata Empud.

Empud berharap pemerintah bisa segera membantu menangani krisis air bersih yang ia alami beserta warga lainnya. Terlebih selama ini ia melansir bahwa warga lainnya di kampung tersebut, sama sekali belum mendapatkan bantuan air bersih.

Terakhir, kata Empud, warga di wilayah itu mendapatkan bantuan air bersih beberapa tahun yang lalu.

"Itupun dari warga luar yang peduli terhadap warga sekitar. Sedangkan bantuan air bersih dari pemerintah belum sama sekali," ucapnya.

Hal senada pun disampaikan warga lainnya, Sensen (20), ia mengakui, bahwa ia beserta keluarga sudah mengalami krisis air bersih sejak dua bulan terkahir.

"Ya, disini kami sudah mengalami kesulitan air bersih sejak dua bulan terakhir akibat kemarau. Kami berharap kepada pemerintah setempat untuk segera mengirim bantuan air bersih ke kampung kami, karena sumur sudah sedikit sekali airnya," ujarnya.

  • Bagikan melalui: