Banjir Rancaekek, Pemerintah Harap Segera Bangun Danau Retensi

Bandung, wartagaluh.com - Akhir - akhir ini daerah di Jawa Barat Khususnya Daerah Bandung terus diguyur hujan bahkan dibeberapa wilayah saat ini sedang mengalami musibah banjir, salahsatunya warga - warga yang rumahnya dekat bantaran Sungai Citarum maupun anak-anak sungai akan terus dihantui ancaman banjir setiap memasuki musim hujan. Apalagi saat ini, mulai Selasa (7/4/2020) sore, di sejumlah daerah aliran Sungai Citarum Kabupaten Bandung kembali turun hujan.

"Saat ini saja sejumlah permukiman warga di Desa Sukamanah Kecamatan Rancaekek masih tergenang banjir, setelah beberapa hari tergenang banjir," kata Jafar, warga Rancaekek kabupaten bandaung beberapa waktu lalu.

Menurutnya, untuk penanggulangan warga korban banjir di Desa Sukamanah itu, sudah mendapatkan perhatian serius dari Pemkab Bandung dengan cara turun langsung ke lapangan. Bahkan Pemkab Bandung melalui Dinas Sosial sempat membuka dapur umum untuk membantu warga yang terdampak banjir. "Dari sejumlah pihak pun turut membantu warga korban banjir. Bahkan tadi siang juga ada bagi-bagi masker untuk warga yang terdampak banjir dalam upaya pencegahan penularan wabah virus corona," katanya.

Jafar sebagai pelaku usaha yang terdampak langsung banjir di Rancaekek itu, berharap pemerintah untuk mempercepat pembangunan danau retensi di Desa Jelegong, Linggar, Bojongloa, dan Desa Sukamanah untuk meminimalisir ancaman banjir rutin di Rancaekek. "Pembangunan danau retensi sebagai salah satu langkah efektif untuk mengurangi banjir di Rancaekek," harap Jafar.

Selain pembangunan danau retensi di empat desa di Kecamatan Rancaekek, katanya, harus dibarengi pula pembangunan danau retensi di kawasan Jatinangor dan Cimanggung Kabupaten Sumedang.

"Pasalnya air yang mengalir ke Rancaekek itu berasal dari Jatinangor dan Cimanggung, sehingga kami berharap di kawasan tersebut dibuatkan danau retensi untuk mengurangi aliran air ke hilir kawasan Rancaekek. Selain sejumlah pihak melakukan gerakan tanam pohon untuk jangka waktu yang cukup panjang. Penanaman pohon pun harus dibarengi dengan pemeliharaan dan tidak begitu saja ditanam," tuturnya.

Jafar juga berharap alih fungsi lahan di kawasan Jatinangor dan Cimanggung untuk dihentikan. Akibat dari alih fungsi lahan dari kawasan daerah resapan air menjadi kawasan pembangunan perumahan atau bangunan fisik lainnya, menyebabkan aliran air ke Rancaekek semakin besar dan rawan banjir.

"Saya perhatikan alih fungsi lahan di kawasan Jatinangor dan Cimanggung sangat masif akibat ulah tangan manusia. Coba saja lihat kaki Gunung Geulis di kawasan Cimanggung digunakan mendirikan bangunan perumahan. Padahal kawasan itu daerah resapan air," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sukamanah, Dede Rahim mengatakan, dirinya terus berusaha untuk kerja keras membantu warga yang terdampak banjir.

"Karena kondisi dan situasinya seperti ini, paket makanan yang sudah dibungkus di dapur umum sempat dikirim ke rumah-rumah warga yang terdampak banjir. Soalnya, mereka umumnya bertahan di rumah masing-masing," kata Dede.

Camat Rancaekek, Baban Banjar terus memantau sejumlah desa di Kecamatan Rancaekek, khususnya Desa Sukamanah yang selama ini rawan banjir hingga berhari-hari.

"Kami berharap kepada pemerintah pusat untuk segera merealisasikan pembangunan danau retensi di Rancaekek. Dengan harapan bisa mengurangi atau meminimalisir ancaman banjir," kata Baban.

Selain pembangunan danau retensi, ia juga berharap kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat maupun Balai Besar Wilayah Sungai Citarum ada percepatan normalisasi Sungai Cikeruh, selain Sungai Cikijing, Sungai Cimande dan Sungai Citarik. "Sungai Cikeruh itu kondisinya dangkal, sehingga rawan banjir kalau sudah turun hujan deras," katanya.

  • Bagikan melalui: