Krisis Melanda Singapura, Ramai-ramai Restoran Mewah Bangkrut-Tutup Massal

251006072040-krisi.jpeg

Tangkapan Layar: Patung Merlion digambarkan di Marina Bay di Singapura pada 24 April 2023. (AFP via Getty Images/ROSLAN RAHMAN) (Foto : IrsyadIstw)

BANDUNG -- Negara Singapura saat ini tengah mengalami fenomena bisnis kuliner gulung tikar yang luar biasa. Hal itu, ada lebih dari 3.000 bisnis kuliner (F&B) yang dilaporkan tutup sepanjang tahun lalu. Dikutip Channel News Asia, angka itu setara dengan rata-rata 250 restoran tutup setiap bulan. Hal itu, jumlahnya merupakan jumlah tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir ini.

Mirisnya lagi, beberapa restoran yang terpaksa tutup merupakan tempat makan legendaris yang sudah berdiri selama berpuluh-puluh tahun.

Seperti di antaranya Ka-Soh, restoran Kanton berusia 86 tahun yang pernah menjadi favorit banyak orang. Mereka terpaksa harus menyajikan mangkuk sup ikan terakhirnya pada 28 September lalu.

"Kalah," begitulah perasaan Cedric Tang, pemilik generasi ketiga Ka-Soh ini.

"(Walaupun kami) sudah bekerja keras selama bertahun-tahun, kami [akhirnya] sudah cukup terbebani," kata dia.

Menurut Tang, tak mungkin menaikkan harga jual makanan di Ka-Soh. Karena, restoran itu, merupakan bisnis warisan yang ingin menjaga esensi 'terjangkau' bagi pelanggan lama disini.

Ka-Soh terpaksa bergabung dengan banyak restoran lain yang terpaksa gulung tikar di Singapura. Seeperti, Burp Kitchen & Bar, restoran favorit keluarga lainnya yang menjadi salah satu dari 320 restoran yang tutup pada Juli 2025 ini.

Ka-Soh juga mengikuti jejak Prive Group, yang menutup semua restorannya per 31 Agustus, bulan yang mencatat 360 penutupan secara masal.

"Bahkan [restoran] yang paling 'sehat' pun tak dapat bertahan hidup saat ini," kata mantan pemilik restoran Chua Ee Chien. Pasalnya, dua restoran dalam Michelin Guide Singapura pun harus tutup juga," imbuhnya.

Bagi banyak pemilik, termasuk Ka-Soh, biaya sewa adalah penyebab banyak restoran yang terpaksa tutup, walaupun bukan faktor satu-satunya disini.

"Di komunitas kami, mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa ini mencapai 20 (dan) 49 persen," kata Terence Yow, ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF), yang mewakili lebih dari 1.000 pemilik usaha F&B dan bisnis lainnya.

"Hal ini sesuatu yang belum pernah kita lihat selama 15 dan 20 tahun terakhir," ucap dia.

Belakangan, rumah toko (ruko) menjadi properti yang diminati investor lokal maupun asing, di tengah langkah-langkah 'pendinginan' baru-baru ini untuk pembelian hunian.

Alhasil, ada dampak investor berekspektasi tinggi pada imbal hasil sewa. Katanya, para pemilik properti juga menghadapi tekanan yang cukup besar.

"Jika sewa seseorang diperbarui sekarang, tiga tahun sesudah Covid, maka bahkan dengan kenaikan sewa sebesar 50 (hingga) 100 persen. Hal itu, mungkin tak akan mencapai tingkat pasar saat ini," tandas Ethan Hsu dari Knight Frank Singapura

Menurut spesialis real estat itu, biaya konstruksi sudah naik sekitar 30 persen dan biaya pemeliharaan setidaknya 10 persen.

"Banyak orang terpaku pada gagasan tentang pemilik properti yang serakah. Kenyataannya, sewa hanyalah salah satu komponen biaya yang dihadapi penyewa," ungkap dia.

Di Burp Kitchen & Bar, meningkatnya biaya tenaga kerja ditambah dengan penurunan permintaan telah mencapai titik kritisnya. Dengan jumlah juru masak yang makin sedikit, pemain besar berlomba-lomba menggandakan gaji normal untuk mengamankan staf.

Restoran kecil seperti Burp Kitchen hanya bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup singkat. Bahkan sesudah menaikkan gaji dan memangkas jam kerja.

Asosiasi Restoran Singapura telah membunyikan alarm pada Maret lalu tentang krisis tenaga kerja yang serius dan menyerukan peninjauan kuota pekerja asing. Namun, pihak berwenang melihat krisis ini sebagai masalah kelebihan pasokan.

Singapura dipenuhi hampir 23.600 gerai makanan ritel pada tahun lalu, naik dari hampir 17.200 pada tahun 2016. Meskipun 3.047 bisnis tutup tahun lalu, hampir 3.800 bisnis baru dibuka. Namun, jaringan restoran berkantong tebal justru menyingkirkan gerai independen kecil.

Menurut Indeks Jasa Makanan dan Minuman dari Badan Pusat Statistik pada Juni 2025, katering dan gerai makanan cepat saji mengalami peningkatan penjualan tahunan, sementara omzet restoran menurun sebesar 5,6 persen. Kafe, pusat jajanan, dan tempat makan lainnya mengalami penurunan sebesar 0,1 persen.

"Kami mengamati perubahan drastis dalam perilaku pelanggan," ucap Ronald Chye, salah satu pemilik Burp Kitchen, merujuk pada penurunan pengeluaran.

"Ada begitu banyak pilihan di luar sana," tambah istri sekaligus pemilik Burp Kitchen, Sarah Lim.

"Frekuensi kunjungan pelanggan turun dari tiga, empat kali seminggu menjadi mungkin sebulan sekali," kata dia.

Dalam hal menemukan restoran baru, lebih dari separuh warga Singapura, termasuk 59 persen Gen Z, mengandalkan media sosial, menurut survei tahun 2023 yang dilakukan oleh perusahaan teknologi perhotelan SevenRooms.

Ada profesional yang membantu operator F&B mempertajam kehadiran online mereka. Talking Point menggandeng salah satunya, salah satu pendiri Craft Creative, Dylan Tan, untuk bekerja sama dengan Christopher Lim yang berusia 62 tahun, yang mengelola Marie's Lapis Cafe di Bedok North.

Sudah 5 tahun sejak kafe ini mulai menyajikan makanan dan hidangan penutup Peranakan buatan tangan, yang diwariskan turun-temurun.

"Kami hanya bertahan hidup di atas tali," kata Lim, yang menjual rumahnya dan mencairkan tabungan Dana Pensiun Pusat serta polis asuransinya untuk mempertahankan kafenya.

Penulis/Pewarta: Irsyad
Editor: Irsyad
©2025 WARTAGALUH.COM

TAGS:

Komentar