Diburu Belanda dan Jepang, Daun Ini Jadi Harta Karun RI
News - Sabtu, 18 Oktober 2025

Foto : IrsyadIstw
TangkapanLayar: Daun rempah ini tengah jadi incaran pasar global terutama dari negara-negara maju seperti Belanda, Jepang sampai Australia
BANDUNG -- Semerbak aroma kuah santan atau rendang yang meresap sempurna, dibalik itu ada rahasia terpendam yakni peran daun salam yang ternyata menjadi salah satu primadona hasil bumi Indonesia. Tak cuma sebagai penyedap khas Nusantara, daun rempah ini justru tengah jadi incaran pasar global terutama dari negara-negara maju seperti Belanda, Jepang sampai Australia.
Tapi ironisnya, walau permintaan global masih stabil, nilai ekspor daun salam Indonesia justru menurun dalam beberapa tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor daun salam Indonesia pada tahun 2024 hanya mencapai US$123.778. Hal itu, atau turun jauh dari puncaknya di tahun 2021 yang sempat menembus US$301.506, dilansir dari CNBC Indonesia, Sabtu, 18 Oktober 2025..
Syzygium polyanthum, atau yang akrab disebut daun salam, bukan sekadar daun aromatik. Dalam dunia kuliner Indonesia, ia hampir selalu hadir dalam masakan berbumbu seperti semur, soto, lodeh, sampai nasi uduk. Tetapi yang tak banyak diketahui publik yakni tingginya nilai fungsional dan farmakologis daun salam inilah yang justru dicari oleh pasar ekspor.
Berbagai studi telah menunjukkan bahwa daun salam mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, eugenol, tanin, dan minyak atsiri yang bersifat antioksidan, antidiabetik, antiinflamasi, dan antihipertensi. Di Jepang dan Korea Selatan, ekstrak daun salam mulai digunakan dalam formulasi teh herbal, suplemen pengatur gula darah, hingga produk perawatan kulit dengan klaim detoksifikasi.
Belanda dan Australia, yang konsumsi rempah-rempahnya tinggi karena industri kuliner dan kesehatan naturalnya berkembang pesat. Hal itu, menjadikan daun salam sebagai komponen dalam bumbu kering instan, kaldu herbal, dan produk ritel rempah olahan.
Walau manfaatnya luas dan pasarnya cukup loyal, ekspor daun salam RI justru menunjukkan tren penurunan sejak 2022. Volume ekspor yang sempat mencapai hampir 70 ton di 2019 dan 2021, kini tinggal 23 ton di 2024. Nilai ekspornya pun menurun hampir separuh dibandingkan tiga tahun silam.
Salah satu penyebab utama selain Pandemi COVID-19 adalah ketersediaan bahan baku yang tak terstandarisasi dan kurangnya pengolahan pascapanen yang memenuhi standar ekspor. Banyak produk daun salam dari Indonesia masih dijual dalam bentuk utuh, tanpa proses pengeringan yang memenuhi standar kebersihan dan kadar air rendah.
Selain itu, perubahan regulasi importasi di negara tujuan seperti Jepang dan Eropa ikut memperketat masuknya produk rempah dari negara berkembang. Jepang misalnya, kini mewajibkan sertifikasi bebas pestisida dan pengujian logam berat yang belum semua eksportir kecil di Indonesia bisa penuhi.
Meski nilai ekspor total turun, Jepang justru menjadi pasar paling aktif dan konsisten. Pada tahun 2024, nilai ekspor daun salam Indonesia ke Jepang naik tajam menjadi US$66.726, tertinggi sepanjang enam tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa meskipun pasar global menyempit, negara-negara yang menghargai nilai fungsional daun salam justru memperbesar permintaannya.
Korea Selatan juga menunjukkan lonjakan permintaan dengan pembelian senilai US$16.608, naik signifikan dari hanya US$6.604 di tahun sebelumnya. Sementara itu, Australia dan Belanda yang sempat menjadi pasar dominan, kini menunjukkan penurunan akibat regulasi dan persaingan dari negara pemasok lain seperti India dan Sri Lanka.
Pasar global untuk daun herbal dan rempah alami diperkirakan akan terus tumbuh seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat, konsumsi plant-based, serta minat terhadap pengobatan natural. Dalam laporan Allied Market Research, pasar bahan herbal dunia diperkirakan tumbuh rata-rata 7% per tahun hingga 2030.
Indonesia sebagai rumah bagi ratusan jenis rempah, termasuk daun salam endemik tropis. Seharusnya bisa menjadi pemain utama. Tapi untuk itu, dibutuhkan standarisasi hulu-hilir, pelatihan petani, penguatan koperasi rempah, serta insentif ekspor bagi UMKM yang bergerak di bidang rempah olahan.
Penulis/Pewarta: Irsyad
Editor: Irsyad
©WARTAGALUH.COM 2025